Mengenal Jamur Tiram Lebih Dekat

Nama   : Erika Tias Wening N
NIM     :  185040100111012
Budidaya Tanpa Tanah - Kelas H

Pengenalan Jamur Tiram

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur yang dapat dikonsumsi dan biasa digunakan untuk sebagai bahan baku dari berbagai olahan makanan. Jamur tiram menjadi favorit kebanyakan orang karena rasa jamur tiram yang lezat dan mudah untuk diolah menjadi berbagai hidangan. Selain memiliki  rasa yang lezat jamur tiram juga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan manusia, sehingga jamur tiram dapat dianjurkan sebagai bahan makanan bergizi tinggi dalam menu sehari-hari.

Menurut Widyastuti (2008) jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia antara lain isoleusin, lysin, methionin, cystein, penylalanin, tyrosin, treonin, tryptopan, valin, arginin, histidin, alanin, asam aspartat, asam glutamat, glysin, prolin dan serin. Selain itu, dalam setiap 100 gram jamur tiram terkandung 367 kalori, 10.5-30.4% protein, 56.6% karbohidrat, 1.7- 2.2% lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-4.9mg riboflavin, 77.2 mg niacin, 314.0 mg kalsium, 3.793.0 mg (Widyastuti, 2008). Tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada manusia, kandungan senyawa kimia dalam jamur tiram secara klinis berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio dan influenza serta kekurangan gizi (Kalsum et al., 2011).

Berdasarkan buku Bisnis Pembibitan Jamur Tiram, Jamur Merang, Jamur Kuping karangan Asegab (2010) dijelaskan bahwa jamur tiram memiliki tudung yang agak membulat dan melengkung seperti cangkang tiram, dengan diameter 6-14 cm. Daging buahnya berwarna putih begitu juga dengan warna bilahnya, namun saat menua warna bilah akan berubah menjadi krem kekuningan dan ukurannya akan menyusut menjadi 1-3 cm. 

Jamur tiram muda

Indukan Jamur Tiram

          Media Tanam Jamur Tiram

Komoditas jamur tiram dibudidayakan melalui beberapa tahap, yaitu pembuatan biakan murni (F0), biakan induk (F1), bibit induk (F2), dimana setiap tahapan membutuhkan media tanam yang berbeda. biakan murni (F0) menggunakan potato dextrose agar (PDA) sebagai media tumbuhnya. Berdasarkan komposisinya PDA termasuk dalam media semi sintetik karena tersusun atas bahan alami (kentang) dan bahan sintesis (dextrose dan agar). Kentang merupakan sumber karbon (karbohidrat), vitamin dan energi, dextrose sebagai sumber gula dan energi, selain itu komponen agar berfungsi untuk memadatkan medium PDA (Wantini dan Octavia, 2018).

Untuk bibit F1 digunakan media yang berasal dari biji-bijian seperti biji jagung dan sorgum. Hal ini karena media untuk budidaya jamur harus mengandung karbohidrat sebagai sumber C dan protein sebagai sumber N sehingga diperoleh nilai C/N optimal yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan miselium (Wardana dan Erdiansyah, 2016). Sedangkan untuk bibit F2 media tanamnya menggunakan baglog dengan komposisi serbuk kayu sengon, dedak padi, dedak jagung, dan kapur, dengan perbandingan 20% dedak padi, 10% dedak jagung, 1% kapur dari jumlah serbuk kayu sengon yang dipakai (Wardana dan Erdiansyah, 2016). Serbuk gergaji yang baik digunakan sebagai media tanam dari jenis kayu yang keras, sebab banyak mengandung selulosa. Penggunaan dedak padi berfungsi sebagai nutrisi karena mengandung karbohidrat, karbon dan nitrogen, tidak hanya itu dedak padi juga kaya akan vitamin B kompleks sehingga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur serta berfungsi juga sebagai pemicu pertumbuhan tubuh buah (Soenanto, 2000). Kapur diperlukan karena berfungsi sebagai pengatur pH (keasaman) media tanam dan sebagai sumber kalsium (Ca) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur (Istiqomah dan Fatimah, 2014).

Baglog jamur dalam masa inkubasi
(Sumber : kompasiana.com)


 
        
Lingkungan Tumbuh Jamur Tiram

Kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan jamur tiram adalah tempat-tempat yang teduh dan tidak terkena pancaran sinar matahari secara langsung dengan sirkulasi udara lancar dan angin sepoi-sepoi basah (Djarijah dan Abbas, 2001). Terdapat beberapa aspek lingkungan yang harus diperhatikan untuk menentukan keberhasilan budidaya atau pertumbuhan jamur tiram antara lain tingkat keasaman (pH), suhu udara, kelembaban udara dan cahaya.

1. Tingkat Keasaman (pH)

pH media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan membuat pertumbuhan jamur terhambat, bahkan akan memungkinkan pertumbuhan jamur lain yang dapat mergganggu pertumbuhan jamur tiram yang dibudidayakan. Tingkat keasaman media tanam yang cocok untuk pertumbuhan jamur tiram berkisar antara antara pH 6 - 7 (Widyastuti, 2008).

2. Suhu Udara

            Suhu udara berperan dalam pembentukan badan buah jamur yang optimal. Menurut Widyastuti (2008) suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan menjadi fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28°C dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22°C.

3. Kelembaban Udara

            Seperti pada suhu udara, kelembaban lingkungan pertumbuhan jamur tiram juga dibedakan untuk fase inkubasi dan fase pembentukan tubuh buah. Pada fase inkubasi kelembaban yang optimum untuk pertumbuhan jamur tiram adalah 60-70 %, sedangkan untuk fase pembentukan tubuh buah kelembaban yang dibutuhkan sebesar 80-90 % (Aini dan Kuswytasari, 2013).

4. Cahaya

Miselium jamur tiram akan tumbuh dengan cepat dalam keadaan gelap atau tanpa sinar, oleh karena itu intensitas cahaya yang dibutuhkan selama pertumbuhan miselium jamur hanya sebesar 10% (Aini dan Kuswytasari, 2013). Namun, pada masa pertumbuhan badan buah jamur diperlukan adanya rangsangan sinar. Sehingga pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah, permukaan media harus mendapat sinar dengan intensitas penyinaran sebesar 60 - 70 % (Widyastuti, 2008).

       Pembibitan Jamur Tiram

Menurut Gunawan (2004) komoditas jamur tiram dibudidayakan melalui 4 tahap, yaitu pembuatan biakan murni (F0), biakan induk (F1), bibit induk (F2) dan  bibit produksi. F(Filial) merupakan turunan ke 1,2 ,dan ke 3 (Umniyatie et al., 2013). Bibit  jamur  tiram  yang  baik  adalah  bibit jamur tiram  yang  dihasilkan  dari  kultur  jaringan murni  dan  terbebas  dari  kontaminasi  lingkungan sekitar, oleh karena itu sterilisasi   media   merupakan   salah   satu proses  yang  sangat  penting  dalam  pembuatan  bibit jamur   tiram (Sagala et al., 2015).

1. Pembibitan F0

F0 adalah bibit induk turunan pertama (ke I), yang sangat mempengaruhi kualitas bibit pada turunan berikutnya. Proses awal dari pembibitan F0 adalah pembuatan media tanamnya yang berupa potato dextrose agar (PDA) yang memanfaatkan ekstrak kentang. Setelah PDA siap digunakan tahap selanjutnya dalam pembuatan bibit F0 adalah isolasi yang merupakan  proses pengambilan bagian tertentu dari tubuh indukan untuk ditanamkan ke media PDA (Riyanto, 2010). Setelah isolasi tahap berikutnya dalam pembibitan F0 pada jamur tiram adalah inokulasi. Inokulasi adalah proses penanaman jaringan pada media tumbuh. Inokulasi dapat dikatakan berhasil jika biakan F0 ditumbuhi hifa yang seperti kapas berwarna putih pada permukaannya (Wardana dan Erdiansyah, 2016).

Bibit F0 tanpa kontaminasi

2. Pembibitan F1

            Media yang digunakan dalam proses pembibitan F1 berasal dari biji-bijian biasanya biji jagung dan sorgum. Proses pembibitan F1 dimulai dengan pembuatan media tumbuh untuk bibit F1 dan dilanjutkan dengan inokulasi bibit F1. Kegiatan inokulasi bibit F1 pada prinsipnya sama dengan inokulasi bibit F0, miselium dari biakan murni (F0) ditanam di media biakan 1dalam keadaan aseptic (Riyanto, 2010). Bibit F1 yang sudah diinokulasi dengan miselium dari biakan murni (F0) kemudian diinkubasikan dalam kotak atau lemari pada suhu 25-27° C dan dalam keadaan gelap selama 25-30 hari sampai media dipenuhi miselium jamur yang berwarna putih. Jika miselium yang tumbuh tidak berwarna putih berarti terjadi kegagalan, sehingga media harus dibuang dan kegiatan inkubasi diulang.

Bibit F1 yang berhasil (kiri) dan gagal (kanan)

3. Pembibitan F2

            Pembibitan tahap ketiga bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur yang berasal dari pembiakan tahap kedua (F1). Media yang digunakan dalam pembibitan F2 komposisinya sama seperti media pada baglog yaitu terdiri dari serbuk kayu sengon, dedak padi, dedak jagung, dan kapur, dengan perbandingan 20% dedak padi, 10% dedak jagung, 1% kapur dari jumlah serbuk kayu sengon yang dipakai(Wardana dan Erdiansyah, 2016). Inokulasi bibit F2 dimulai dengan mensterilkan botol inukulan dengan menyemprotkan alkohol 70% dan memanasi leher botol dengan api, kemudian miselium yang tumbuh pada media F1 diaduk dengan menggunakan pinset agar tidak menggumpal dan  dimasukkan ke dalam botol bibit F2 (Riyanto, 2010) . Bibit F2 yang sudah diinokulasi dengan miselium dari bibit F1 harus dipindahkan ke ruangan inkubasi sampai tumbuh misellium jamur, Lamanya penumbuhan misellium jamur antara 45 - 60 hari (Widyastuti, 2008).Proses pembibitan  biakan murni (F0), biakan induk (F1), bibit induk (F2) dan  bibit produksi lebih jelasnya dapat dilihat pada video berikut.


 Teknik Budidaya Jamur Tiram

Dalam memulai budidaya jamur tiram diperlukan persiapan bahan dan sarana seperti bibit jamur,media tanam, dan rumah jamur. Berikut merupakan tahapan budidaya jamur tiram menurut Umniyatie et al., (2013).

1) Penyiapan Bibit Jamur

    Bibit jamur yang disiapkan untuk kegiatan budidaya jamur tiram mulai dari bibit F0,F1 dan F2. Penyediaan bibit jamur untuk skala rumah tangga atau skala kecil dapat membeli, dan tidak perlu membuat sendiri karena di samping memerlukan alat-alat yang khusus juga memerlukan tekhnik aseptik, untuk menghindari terjadinya kontaminasi atau menjaga kemurnian bibit.

2) Penyiapan Rumah Jamur

Penyiapan rumah jamur merupakan langkah awal dalam budidaya jamur. Pemilihan lokasi rumah jamur diupayakan yang memiliki suhu 30-32ᵒC dekat dengan sumber air, dan sarana produksi yang lain. Ketinggian rumah 5-6 meter,beratap genting atau plastik,dinding dari anyaman bambu yang dilapisi plastik. Pembuatan rumah jamur juga harus memperhatikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur  seperti pencahyaan, oksigen, kelembaban air, suhu, dan derajat keasaman (pH). Rumah jamur yang sudah jadi, perlu disterilkan dengan menaburi kapur dan insektisida dan ditunggu selama 1-2 hari.

Rumah jamur tiram
(Sumber : pertanianku.com)

3) Pembuatan Media Tanam Jamur

Media tanam jamur menggunakan bahan dasar serbuk gergaji yang sudah diayak,dan bahan-bahan campuran berupa gips (CaSO4), kapur (CaCo3), bekatul, TSP, dicampur dengan air secara merata hingga kadar air 60% atau jika dikepal media tidak pecah. Setelah tercampur rata media dimasukkan ke dalam plastik berukuran 20x35 cm. Berat media tanam berkisar antara 800-900 gram, ditutup dengan kapas dan diikat dengan cincin plastik.

4) Sterilisasi Media Tanam

Sterilisasi dilakukan untuk menghindari adanya kontaminasi organisme lain yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur. Sterilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan autoklaf (suhu 120ᵒC, tekanan 1 atmosfer, selama 5-6 jam) atau dikukus dengan suhu 95-100ᵒC selama 12 jam.

5) Inokulasi Bibit

Inokulasi bibit adalah langkah pemindahan bibit jamur ke dalam media tanam yang sudah dingin. Bibit yang digunakan adalah bibit F2 yang diisikan secara aseptik dengan berat kurang lebih 10 gram/merata dipermukaan baglog.

6) Inkubasi

Inkubasi baglog yang sudah berisi bibit, membutuhkan suhu ruang dan penataan yang baik pada rak dalam rumah jamur. Suhu inkubasi kurang lebih antara 22- 28ᵒC dan pengisian rak secara horizontal dan berselang-seling dengan diberi penyekat dari bambu. Selama 40-60 hari miselium akan  tumbuh merata.

7) Pembukaan Tutup Kapas

Jika miselium sudah memenuhi baglog, buka tutup kapas dan jaga kelembaban kurang lebih 65% dengan cara menyemprot media dan selama 1-7 hari akan tumbuh tubuh buah dari mulut baglog.

8) Pemeliharaan

Selama masa inkubasi diperlukan pemeliharaan agar baglog tidak terkontaminasi organisme pengganggu. Untuk mengatasi hal ini, sanitasi lingkungan harus dijaga dengan menaburkan kapur pada celah-celah antara susunan baglog, membuang baglog yang telah terkontaminasi dan memperbaiki rumah jamur yang rusak. Berikut merupakan video terkait budidaya jamur tiram untuk membantu memahami tahapan budidaya jamur tiram.



         Panen dan Pasca Panen Jamur Tiram

Kegiatan panen kamur tiram perlu memperhatikan beberapa hal seperti penentuan waktu panen dan cara pemanenan. Pemanenan dilakukan pada saat jamur mencapai pertumbuhan yang optimal, yakni ketika tudungnya belum mekar penuh dan waktu pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari agar kesegaran jamur dapat dipertahankan, dan mempermudah pemasaran (Hermayanti 2013). Cara pemanenan jamur dilakukan dengan mencabut jamur secara hati–hati tanpa menyisakan bagian jamur pada baglog untuk menghindari pembusukan.

Setelah dipanen jamur tiram memiliki umur simpan yang pendek atau cepat mengalami kerusakan. Oleh karena iru, penanganan pasca panen berperan penting untuk memperlambat kerusakan jamur setelah panen. Tahapan pasca panen jamur tiram antara lain pembersihan, sortasi, grading, penimbangan, pengemasan dan penyimpanan jamur. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Handayani (2008) kemasan terbaik untuk jamur tiram adalah menggunakan plastik PP yang memiliki 4 lubang dengan diameter 5mm yang kemudian disimpan pada suhu 5° C, pengemasan dan penyimpanan seperti ini dapat menjaga kualitas jamur tiram putih hingga 12 hari.

Jamur tiram segar dalam kemasan
         (Sumber: gramho.com)

            Daftar Pustaka


Aini, F.N dan  Kuswytasari, N.D. 2013. Pengaruh Penambahan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Jurnal Sains dan Seni ITS, 2(2)

Asegab, Muad. 2010. Bisnis Pembibitan Jamur Tiram, Jamur Merang, jamur Kuping. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Djarijah N.M dan Djarijah A.S. 2001. Budidaya Jamur Tiram. Yogyakarta: Kanisius.Gunawan, A.W. 2004. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta : UI Press.

Handayani, RT. 2008. Pengemasan atmosfer termodifikasi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).[Skripsi]. Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Hermayanti O. 2013. Strategi pengembangan usaha tani jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) di dataran rendah [skripsi]. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional

Istiqomah, N dan Fatimah, S. 2014. Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Pada Berbagai Komposisi Media Tanam. Ziraa'ah Majalah Ilmiah Pertanian, 39(3), pp.95-99.

Kalsum, U., Fatimah, S dan  Wasonowati, C. 2011. Efektivitas Pemberian Air Leri Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi, 4(2), pp.86-92.

Riyanto, F. 2010. Pembibitan jamur tiram (pleurotus ostreatus) di balai pengembangan dan promosi tanaman pangan dan hortikultura (BPPTPH) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta. Surakarta:  Universitas Sebelas Maret

Sagala, L.A.B., Aprilina, E., Sonip, A., Risanti, M dan Irzaman, I. 2015. Penumbuhan Miselium Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Pada Media Sorgum Dan Analisis Fourier Transform Infrared (FTIR). Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) (Vol. 4, pp. SNF2015-V).

Soenanto, H. 2000. Jamur Tiram. Aneka Ilmu. Semarang.

Sujoko, Ahmad. 2015. Kajian Sterilisasi Media Tumbuh Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus (L) Fries) Menggunakan Steamer Baglog. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem: Vol. 3 No. 3, 303- 314.

Umniyatie, S., Astuti, D.P dan Henuhili, V. 2013. Budidaya Jamur Tiram (Pleuretus. Sp) Sebagai Alternatif Usaha Bagi Masyarakat Korban Erupsi Merapi Di Dusun Pandan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman DIY. INOTEKS, 17(2).

Wantini, S dan Octavia, A. 2018. Perbandingan Pertumbuhan Jamur Aspergillus flavus Pada Media PDA (Potato Dextrose Agar) dan Media Alternatif dari Singkong (Manihot esculenta Crantz). Jurnal Analis Kesehatan, 6(2), pp.625-631.

Wardana, R dan Erdiansyah, I. 2016. Mata Naga (Pemanfaatan Alat dan Bahan Rumah Tangga) Produksi Jamur tiram Generasi F0 Sampai F2 Sebagai Bahan Ajar ekstrakurikuler Budidaya Jamur tiram di SMK Raudlatul Ulum. Prosiding.

Widyastuti, N. 2008. Aspek lingkungan sebagai faktor penentu keberhasilan budidaya jamur tiram (Pleurotus sp). Jurnal Teknologi Lingkungan9(3).

Komentar

  1. Saya mau bertanya, bibit F0 jamur tiram didapatkan dari mana ya? Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya, bibit jamur F0 diperoleh dari miselium indukan jamur dengan varietas unggul yang berasal dari panen pertama dalam baglog, dengan kondisi sehat dan tidak terinfeksi patogen

      Hapus
  2. Izin bertanya eonni. Apa manfaat dari penaburan kapur pada sela2 baglog saat kegiatan pemeliharaan budidaya jamur? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya, kapur dapat berfungsi sebagai disinfektan, oleh karena itu penaburan bubuk kapur pada celah baglog bertujuan untuk mencegah atau membunuh adanya organisme yang dapat menghambat pertumbuhan jamur tiram

      Hapus
  3. Assalamu'alaikum, untuk jamur tiram segar yang sudah dibeli dan dibawa ke rumah, supaya tidak mudah busuk lebih baik disimpan di suhu ruang atau di kulkas ya? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam, terima kasih atas pertanyaannya. Untuk jamur tiram segar lebih baik disimpan dalam kulkas ya karena jamur yang disimpan dalam kulkas mampu bertahan hingga 1 minggu dan jika disimpan disuhu ruang hanya akan bertahan selama 1 hingga 2 hari

      Hapus
  4. Permisi, Apakah jamur tiram mudah di budidayakan di Indonesia, kalo iya kenapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaannya, jamur tiram mudah dibudidayakan di Indonesia hal ini karena Indonesia termasuk negara tropis basah yang suhu udara dan tingkat kelembaban nya sangat sesuai dengan lingkungan hidup yang dibutuhkan oleh jamur tiram untuk tumbuh dengan baik

      Hapus
  5. Izin bertanya kaka...
    Bagaimana yah cara pembuatan media PDA? Tolong dijelaskan yah kaka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaanya, potato dextrose agar dapat dibuat dengan tahapan sebagai berikut.
      1. Kentang dikupas dan dicuci hingga bersih, kemudian dipotong kecil-kecil berbentuk dadu dengan ukuran 1-2 cm agar cepat lunak pada saat perebusan
      2. Potongan kentang direbus di dalam air aquades sebanyak 1 liter selama 20-30 menit
      3.Air rebusan kentang disaring menggunakan kain, kertas saring atau saringan biasa.
      4. Air hasil penyaringan dimasukkan ke dalam panci, kemudian ditambahkan agar-agar putih dan dextrose. Lalu dipanaskan hingga mendidih
      5. Setelah mendidih, didiamkan beberapa menit untuk mendinginkan larutan tersebut. Setelah cukup dingin, larutan dituangkan ke dalam cawan petri atau botol hingga mencapai ketinggian 1 cm dari dasar cawan atau botol.
      6. Lalu, cawan petri ditutup, jika menggunakan botol, mulut botol ditutup dengan kapas dan dilapisi dengan plastik tahan panas
      7. Kemudian larutan PDA disterilisasi dengan menggunakan autoclave
      8. Setelah sterilisasi selesai, larutan PDA dinginkan dan diletakkan di laminar air flow (LAF) untuk persiapan inokulasi.

      Hapus
  6. Diatas disebutkan bahwa suhu yang sesuai untuk budidaya jamur tiram berkisar antara 30-32°c bagaimana cara menjaga suhu dalam lumbung tetap stabil pada suhu tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaannya, untuk menjaga suhu dalam kumbung tetap stabil dapat dilakukan beberapa cara yaitu jika suhu dalam kumbung jamur di kumbung naik, ventilasi pada kumbung dapat dibuka, pembukaan ventilasi akan mengalirkan udara ke dalam kumbung sehingga akan mempercepat penurunan suhu didalam kumbung. Namun jika suhu didalam kumbung terlalu rendah kumbung dapat dipasangi pemanas ruangan atau lampu portable untuk membantu meningkstksn suhu didalam kumbung

      Hapus
  7. Kenapa plastik PP yang memiliki 4 lubang dengan diameter 5mm merupakan kemasan terbaik untuk memperpanjang umur simpan jamur tiram?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas pertanyaanya, karena komposisi atmosfer di dalam kemasan plastik PP yang memiliki 4 lubang dengan diameter 5mm paling mendekati nilai optimum atmosfer termodifikasi yang disarankan untuk menyimpan jamur tiram, sehingga komposisi atmosfer dalam kemasan mampu menekan berbagai proses yang masih berlangsung di dalam jamur seperti respirasi, transpirasi, dan oksidasi, sehingga membuat umur simpan jamur tiram menjadi lebih panjang.

      Hapus
  8. Selamat malam saya Risma izin bertanya di jelaskan diatas bahwa pemilihan lokasi rumah jamur diupayakan yang memiliki suhu 30-32ᵒC. Bagaimana dengan seorang petani yang ingin memulai usaha jamur tiram, akan tetapi ia tinggal di daerah yang suhunya kurang dari 30°C? Apakah ada alternatif lain? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pertanyaan, jika suhu sekitar kurang dari suhu yang sesuai untuk pertumbuhan jamur tiram maka suhu didalam kumbung dapat diusahakan agar berkisar antarasuhu 30-32ᵒC dengan cara melapisi kumbung dengan styrofoam untuk menjaga suhu agar tetap hangat atau menambahkan pemanas ruangan dalam kumbung untuk meningkatkan suhu di dalam kumbung

      Hapus

Posting Komentar